Tersesat

Misalkan orang bernama A yang belajar rajin matematika hingga S3 dengan nilai maximal, sementara seorang bernama B tidak belajar matematika  baik disekolah maupun diluar sekolah dan  tidak ada yang membimbing belajar. Ketika A dan B disuruh mengerjakan soal matematika setingkat SMA, maka si A dengan mudah mengerjakan soal tersebut, sedangkan B tidak dapat menyelesaikan matematika tersebut.

Si A yang belajar rajin akan memiliki batas kepintaran diotaknya lebih tinggi dibandingkan si B berkenaan dengan ilmu khusus matematika.

ILMU SANGAT LUAS

Apakah ilmu matematika sebatas ilmu yang dimiliki si A ? Tentu tidak , karena ilmu matematika masih  sangat luas ? Begitu juga  ilmu ilmu yang lain sangat banyak dan sangat luas.

Semakin banyak belajar macam dan kualitas ilmu, maka akan naik tingkat kepintaran otaknya. 

TERSESAT

Seandainya kasus diatas  ilmu matematika kita ganti ilmu agama, maka Si A akan lebih pintar menyelesaikan permasalahan kehidupan yang terkait ilmu agama dibandingkan si B. Maka si B tidak mengerti ilmu agama dan dikatakan tersesat atau merugi.

Apakah si B yang tidak mengerjakan rukun islam dan banyak kesalahannya kita katakan kepadanya kafir, sesat ?. Orang tersesat harusnya dikasihani.

Dijaman awal nabi Muhammad berdakwah , banyak menemui orang semisal orang B bahkan semuanya jahiliah hanya Nabi yang pintar agama saat itu , namun Rasulullah bersabar dalam berdakwah hingga akhirnya menguasai madinah dan mekkah. Tentu dakwah Nabi memerlukan biaya lahir maupun bathin, dan pengeluaran dana Nabilah yang terbesar sebagai pemberi teladan.

Rasululllah tahu kesesatan ummat bukan 100% kesalaahan dirinya tetapi karena Warisan agama orang tua dan lingkungannya serta tidak adanya pemberi petunjuk hidup yang benar.

Awalnya Rasulullah sendiri yang pintar hidup ditengah orang orang tersesat, dan dengan kasih sayang,  sabar dan ikhlas serta mengharap bantuan Allah dengan berdoa dalam membimbing ummatnya hingga mekah dan madinah  menjadi muslim.

Iklan